Padukuhan Gambretan berada di Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Wilayah Padukuhan Gambretan terletak di arah sebelah barat dari kantor Kalurahan Umbulharjo. Wilayah tersebut terdiri dari enam wilayah Rukun Tetangga dengan Kepala Keluarga sejumlah 228 yang sebagian besar pekerjaan warganya sebagai petani dan pengelola perkebunan.
Asal-usul Nama “Gambretan”
Menurut narasumber seperti Misman Raharja (Kasi Kamituwa), Giri Sukarno (Dukuh), Sukardi (Ketua RT 6), Mujirejo (sesepuh), dan Sri Hartini (warga asli), nama “Gambretan” berasal dari cerita turun-temurun.
Dahulu, wilayah ini adalah lahan kosong yang luas dipenuhi ilalang. Ketika ilalang berbunga, bunga tersebut yang disebut “gambret” oleh warga, tampak memenuhi seluruh lahan, khususnya saat pagi hari, membuat pemandangan penuh bunga putih. Maka setelah wilayah ini menjadi perkampungan, disebutlah sebagai Gambretan.
Mengenai cikal bakal penghuni pertama di wilayah Gambretan tidak dapat penulis peroleh datanya. Akan tetapi, menurut penuturan Sri Hartini, dahulu ada tiga orang bersaudara kakak beradik yang me- rupakan penduduk tertua di Padukuhan Gambretan, yaitu Sastra Sukleja, Bowo Prayitno, dan Sastra Plasakerep. Namun, sesepuh yang disebutkan tersebut, ketiganya sudah meninggal dunia sejak beberapa waktu yang lalu. Bahkan, sebelum meninggal dunia, dua dari tiga sesepuh tersebut tidak bermukim di Gambretan, sehingga penulis tidak dapat menggali informasi yang lebih mendalam lagi tentang asal-usul nama Padukuhan Gambretan, maupun siapakah cikal bakalnya.
Menurut keterangan dari dosen Ngelmu Basa Prodi Pen didikan Basa Jawa Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta, Siti Mulyani, M. Hum, istilah “gambret’ dapat dijumpai di Bausastra halaman 129 yang bermakna “kenes”. Kemudian dikaitkan lagi dengan makna dari istilah “kenes” di Bausastra halaman 209, yaitu “solah tingkah kurang jinem utawa kemayu tumraping wanita” yang dalam bahasa Indonesia berarti tingkah laku yang kurang baik/banyak tingkah bagi seorang wanita. Makna yang kedua, yaitu “gebyar- gebyar banget tumrap inten lan sapiturute” dalam bahasa Indonesia berarti sangat berkilauan untuk mem-beri istilah pada intan dan lain- lainnya.
Berdasar istilah dan makna di atas, Siti Mulyani kemudian menyampaikan, sebuah tebakan tentang asal mula dari nama Gambretan ialah berdasar dari kata gambret yang bermakna kenes, yang kemudian bermakna sangat berkilauan. Bisa jadi pada zaman dahulu, ketika bunga ilalang sedang bermekaran, kemudian tertimpa oleh sinar matahari pagi sehingga bunga-bunga tersebut menjadi berkilauan. Oleh karena berkilauannya, maka disebut dengan “(ng) gambret” lalu untuk menunjukkan suatu tempat, maka kata gambret diberi panambang (tambahan) an, menjadi gambret + an = gambretan.
Berdasar penuturan Rejo Miyono yang lahir pada 1947, mengutip dari penuturan orang tuanya, ter- bentuknya wilayah permukiman di padukuhan ter- sebut sejak 1918. Pada awalnya merupakan kawasan belukar yang dipenuhi tanaman alang-alang dengan bunganya yang dinamai “gambret”. Rejo Miyono waktu kecilnya pernah menjumpai alang-alang yang tumbuhnya di sela-sela pepohonan jambu biji. Saat ini kawasan tersebut sudah menjadi wilayah hunian penduduk.
Guru Besar Fakultas Biologi di UGM Prof. Purnomo, M.S mengatakan, ia belum pernah mendengar istilah “gambret”. Ia baru kali ini mendengar istilah “gambret” yang merupakan nama dari bunga tanaman alang-alang. Namun, Purnomo menuturkan, memang untuk pemberian nama pada tanaman, ter- masuk pada tanaman alang-alang, di tiap-tiap wilayah yang berbeda, berbeda-beda pula sebutannya.
Penulis : Anik Wantari
Tenaga Ahli : R Toto Sugiharto