Upacara adat Labuhan Gunung merapi atau upacara adat Labuhan Merapi dilaksanakan di Ngrangkah, Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, sleman. Upacara ini diselenggarakan dalam rangka peringatan Tinggalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. waktu untuk menyelenggarakan setiap tanggal 29 Rejeb, yang pelaksanaannya dimulai pagi hari (sekitar jam 06.00 pagi), berangkat dari rumah mBah Marijan, Juru Kunci Gunung Merapi, yang dalam pelaksanaan upacara ini bertugas sebagai pemimpin upacara.

Upacara Labuhan pada hakekatnya adalah Hajat Dalem. Menurut keterangan dari Pengageng kawedanan Hageng Poenokawan Sarto Kriyo Kraton Ngayogyakarta, penyelenggaraannya terdiri dari Labuhan Alit dan Labuhan Ageng. Labuhan Ageng pelaksanaan penyelenggaraannya di Parangtritis, Gunung Merapi, Gunung Lawu dan Dlepih. Kemudian untuk Labuhan Alit pelaksanaan penyelenggaraan di Parangtritis, Gunung Merapi dan Gunung Lawu.

Pelaksanaan upacara dimulai dari rumah Juru Kunci Gunung merapi, yakni mBah Maridjan. Sebelum dibawa ke tempat upacara, ubo rampe yang diserahkan dari Kraton Ngayogyakarta melalui Camat depok, Camat Cangkringan diinapkan di rumah mBah Maridjan. Ubo rampe yang akan dilabuh itu dapat dirinci sebagai berikut ;

  1. Selembar kain cangkring
  2. Selembar kain kawung kemplong
  3. Selembar semekan bangun tulak
  4. Selembar semekan gadhung
  5. Selembar kampuh poleng
  6. Selembar dhestar daramuluk
  7. Selembar peningset udaraga
  8. Sebungkus rokok wangen
  9. Sekantang kemenyan, ratus, minyak serta konyoh
  10. Satu amplop isi uang tindhik Rp. 100,-
  11. Dua biji apem mustaka (1 kecamatan Depok, satu kecamatan cangkringan).

Ubo rampe labuhan tadi dimasukkan ke dalam peti. Pada sore hari, peti berisi ubo rampe labuhan dibusanani, yakni diselimuti dengan kain saten warna kuning. Di tempat juru kunci tempat menyemayamkan ubo rampe labuhan, pada malam harinya diadakan selamatan (slametan). Saji-sajian untuk selamatan ini antara lain : nasi wuduk atau nasi gurih, nasi golong, ingkung ayam, sayur tempe goring, among-among. Pelaksanaan selamatan dipimpin oleh rois, dengan doa yang intinya : permohonan kepada Tuhan pencipta semesta dalam, agar Sri Sultan dikaruniai keselamatan, kesejahteraan untuk memberi pengayoman rakyat Mataram (Ngayogyakarta) dan kemakmuran Negara.

Pagi harinya sekitar pukul 06.00, ubo rampe labuhan dibawa ke tempat upacara dengan cara disonggo, dibawa dengan tangan. Setelah dibacakan doa oleh juru kunci maka berangkatlah pengusung ubo rampe labuhan mendaki lereng Merapi menuju tempat upacara. Urutan pembawa ubo rampe labuhan paling depan wakil juru kunci yang membawa peti berisi ubo rampe labuhan, peti dipayungi. Dibelakangnya menyusul juru kunci, rois, pembawa dupa, dan pembawa saji-sajian selamatan.

Sampai di Pos I, Sri Manganti rombongan berhenti. Di sini terdapat batu besar yang disebut Sela Dhampit atau Sela Penganten. Di Sela Penganten, juru kunci membakar kemenyan dan menabur bunga sambil menyampaikan ujub :

“Sungkem kunjuk dhateng Gusti kang Maha Suci, eyang ingkang lenggah ing Arga Merapi, Kawula dipun kersakaken nampi ubo rampe tingalan dalem sadranan wonten ing Wulan Bakda Mulud. Samangke kacaosaken dhateng bangsa naluri. Ingkang maringi Kanjeng Su

Terjemahan :

(Sembah dihaturkan kepada Yang Maha Suci, eyang di Gunung Merapi, kami diperintahkan menerima segala keperluan peringatan Paduka Sultan sadranan di bulan Bakda Mulud, untuk disampaikan kepada … Yang memberikan Paduka Sultan Hamengku Buwono I hingga yang ke … sekarang. Atas perintah Paduka Sultan, kami serahkan labuhan Paduka Sultan).

Selesai juru kunci menyampaikan ujub dilanjutkan pembacaan doa oleh rois. Setelah pembacaan doa perjalanan melanjutkan mendaki Gunung Merapi. Rombongan sampai di Pos II. Di sini dijumpai batu menyerupai umpak. Di tempat ini upacara Labuhan Merapi dilaksanakan (dulu sebelum tahun 1970 labuhan dilaksanakan di Kendhit Merapi). Di empat ini sudah banyak pengunjung menunggu, termasuk utusan Sri Sultan dangen mengenakan pakaian pranakan. Peti yang berisi uborampe labuhan diletakan di atas batu umpak. Dekat dimana diletakkan ubo rampe labuhan diletakkan pula saji-sajian yang terdiri dari : nasi tumpeng dan ikan panggang. Setelah segalanya selesai disiapkan Juru kunci membakar kemenyan dan menyampaikan ujub:

“Kawula nampi dhawuh timbalan dalem Kanjeng Sultan Hamengku Buwono ing jumeneng wonten Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ingkang kakersakaken ngujubaken kintunan labuhan saking Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, konjuk Ngarsa Dalem Pandhanyangan ingkang lenggah ing Arga Merapi : Empu Rama, Empu Ramadi, Eyang Sapujagad, Krincingwesi, Branjangkawat, Sapu Angin, Mbok Ajeng Lambangsari, Mbok Nyai gadhungmlathi, Kyai Megantara, kintunan dalem wujud busana”.

Terjemahan :

“Hamba menerima perintah Kanjeng Sultan Hamengku Buwono yang bertahta di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, untuk menyampaikan kiriman labuhan dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang ditujukan kepada para danyang di Gunung Merapi : Empu Rama, Empu Ramadi, eyang Sapujagad, Krincingwesi, Branjangkawat, Sapu Angin, Mbok Ajeng Lambangsari, Mbok Nyai Gadhungmlathi. Kyai Megantara, kiriman berupa pakaian).

Seperti halnya di Sri Manganti (Pos I) setelah Juru Kunci selesai menyampaikan ujub, dilanjutkan doa yang dibacakan rois. Selesai Juru Kunci mengucapkan ujub dan rois menyampaikan doa, saji-sajian yang menyertai upacara dibagikan kepada para peserta. Ubo rampe labuhan dimasukan kembali ke dalam peti. Juru kunci beserta rombongan kembali turun karena upacara telah selesai. Sesampai di rumah Juru Kunci (mBah Maridjan), ubo rampe labuhan lalu dibagi-bagikan kepada para peserta yang mengikuti Labuhan Merapi. Ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian prosesi Labuhan Merapi.